Peran Vitamin D pada Diabetes Melitus Tipe 1 Anak

Foto oleh puaro.lv

 

 

 

 

 

 

 

 

Akhir-akhir ini kejadian Diabetes Melitus pada anak semakin meningkat. Hampir 90% kasus DM anak adalah DMT1. Pada DMT1 terjadi destruksi luas dari sel beta pankreas. Etiologi terbanyak adalah diperantarai proses autoimun. Ikatan Dokter Anak Indonesia mencatat sekitar 1.249 anak Indonesia dengan diagnosis DM Tipe 1 dari tahun 2017–2019. Prevalensi Diabetes Melitus Tipe-1 di Indonesia meningkat tujuh kali lipat selama 10 tahun, dari 3,88 per 100 juta penduduk pada tahun 2000 menjadi 28,19 per 100 juta penduduk pada tahun 2010. Penelitian menyebutkan bahwa pada DMT1 anak seringkali dijumpai kasus insufisiensi dan defisiensi vitamin D.

Patogenesis DM tipe-1antara lain diperankan oleh faktor berikut:

Peran Vitamin D

Vitamin D sangat penting untuk kesehatan. Sumber vitamin D bisa berasal dari paparan sinar matahari pagi dan makanan. Vitamin D dapat dibentuk sendiri oleh tubuh. Vitamin D dapat larut dalam lemak dan terdapat dalam dua bentuk yaitu vitamin D2 (ergokalsiferol) dan vitamin D3 (kolekalsiferol). Kulit yang terpapar sinar ultraviolet B akan memicu pembentukan vitamin D3. Selanjutnya akan dimetabolisme di hati menjadi 25 OH vitamin D dan ginjal 1,25 OH- Vitamin D menjadi bentuk aktif. Vitamin D yang aktif akan berikatan dengan reseptor vitamin D yang terdapat pada berbagai sel pada sistem skeletal, ginjal, kulit, hepar dan sel pankreas.

Makanan yang kaya vitamin D antara lain minyak ikan seperti ikan salmon, tuna, makarel, udang, kuning telur, daging, minyak ikan, jamur, shirataki dan keju. Beberapa makanan ada yang diperkaya dengan vitamin D seperti susu, mentega, yogurt atau sereal. Vitamin D yang berasal dari makanan hanya menyumbang 20% dari kebutuhan harian, sebagian besar diperoleh dari sintesis vitamin D di kulit.

Kadar vitamin D dikatakan defisiensi jika kadar di darah <20 nmol/L. Pada 2011 dilaporkan prevalensi defiesiensi vitamin D pada anak usia 1-13 tahun sebesar 45,1%. Lebih kurang 49,3% berstatus in adekuat dan hanya 5,6% yang cukup. Penelitian lain mendapatkan 75,8% anak SD mengalami insufisiensi vitamin D.

Kekurangan vitamin D menyebabkan menurunnya kadar kalsium, fosfor dan metabolism tulang. Penurunan absorpsi kalsium dan fosfor di usus menyebabkan peningkatan hormon paratiroid yang akan memobilisasi kalsium dari tulang. Akibatnya akan menurunkan kepadatan tulang karena terjadinya osteopenia, osteoporosis dan osteomalacia. Defisiensi vitamin D juga akan menimbulkan terjadinya kelemahan otot, penyakit infeksi, penyakit kardiovaskular, meningkatnya risiko terjadinya kanker, meningkatnya penyakit autoimmun, DM, arthritis dan multiple sclerosis.

Penyebab utama defisiensi vitamin D adalah kurangnya paparan sinar matahari. Terpapar sinar matahari pada daerah wajah, tangan dan lengan selama 20-30 menit 3 kali dalam seminggu dapat membantu memenuhi kebutuhan vitamin D. Produksi vitamin D maksimal saat tengah hari, sedangkan pada jam 08.00-09.00 dan jam 16.00-17.00 dalam jumlah lebih kecil. Anak yang menggunakan pelindung kulit dan kulit gelap terjadi penurunan produksi vitamin D. Penggunaan tabir surya juga dapat menurunkan produksi vitamin D. Sebagaimana diketahui, vitamin D berperan sebagai imunomodulator yang penting kerja pada system kekebalan tubuh, termasuk pada Sel Natural Killer, dendritic, Sel T regulator, dsb.

Bagaimana peran vitamin D pada DMT1?

Vitamin D penting sejak dari pencegahan DMT1. Berbagai riset menunjukkan bahwa pada saat diagnosis didapatkan kadar vitamin D pada anak DMT1 lebih rendah dibandingkan kontrol. Studi lain menunjukkan peran vitamin D sebagai imunomodulator termasuk pada kasus DMT1. Vitamin D dapat diberikan sebagai tambahan pada tata laksana anak dengan DMT1.

Oleh : Nur Rochmah, Muhammad Faizi, Yuni Hisbiyah, Rayi KP

Link: https://scholar.unair.ac.id/en/publications/vitamin-d-level-and-early-cows-milk-protein-exposure-in-type-1-di

Leave a Comment