Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Inefisiensi Teknis Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia

Foto oleh dailyexpress.lk

 

 

 

 

 

 

 

 

Indonesia merupakan produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia. Indonesia memproduksi hingga 56,94% dari total produksi dunia. Kelapa sawit memegang peranan penting dalam perekonomian nasional di Indonesia karena perkebunan kelapa sawit menciptakan lapangan kerja terutama di pedesaan, menyediakan bahan baku untuk sektor industri, dan juga menyumbang devisa negara. Selain itu, minyak sawit merupakan sumber minyak nabati yang paling produktif untuk biodiesel. Pemerintah merespon tingginya permintaan minyak sawit dunia dari tahun ke tahun dengan memberikan izin perluasan lahan melalui Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2017.

Di Indonesia, produksi kelapa sawit didominasi oleh tiga pelaku utama, yaitu perusahaan negara, perusahaan swasta, dan petani kecil. Petani kecil mendominasi 41,35% dari total produksi kelapa sawit dan tingkat produktivitas mereka adalah 3,43 ton/hektar. Produktivitas petani kecil paling rendah di antara ketiga pelaku, menunjukkan bahwa mereka tidak dapat menghasilkan output mereka secara optimal. Rendahnya produktivitas petani kecil menunjukkan bahwa mereka tidak dapat mengalokasikan input mereka secara efisien. Kemampuan petani dapat mempengaruhi tingkat efisiensi teknis. Petani kecil yang dapat menggunakan inputnya untuk mencapai output tertinggi dapat dikatakan efisien. Oleh karena itu, penting untuk menganalisis efisiensi teknis dan faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi teknis perkebunan kelapa sawit petani rakyat.

Analisis efisiensi teknis ini dilakukan dengan menggunakan data sekunder resmi yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia melalui data Survei Pertanian (Survey Pendapatan Rumah Tangga Pertanian) untuk Indonesia tahun 2013. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 14.367 perusahaan di 18 provinsi di Indonesia. Metode SFA (Stochastic Frontier Analysis) dalam penelitian ini digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi teknis dari perkebunan sawit di Indonesia. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sembilan variabel inefisiensi teknis yang diuji, terdapat tujuh variabel yang mempengaruhi inefisiensi teknis. Variabel tersebut adalah pendidikan, umur, sistem tanam, kualitas benih, hama, penyuluhan, dan petani plasma. Pada model inefisiensi, tanda negatif variabel menunjukkan peningkatan efisiensi dan tanda positif menunjukkan penurunan inefisiensi.

Pendidikan memiliki koefisien inefisiensi teknis yang negatif dan signifikan yang berimplikasi bahwa tingkat pendidikan dapat meningkatkan efisiensi teknis perkebunan kelapa sawit. Semakin banyak petani terdidik, semakin efisiensi teknis. Hal ini karena pemerintah Indonesia mendorong adanya intervensi sosial seperti Corporate Social Responsibility (CSR) di perkebunan kelapa sawit di Indonesia. CSR memberikan program pelatihan dan pendidikan bagi petani, sehingga meningkatkan efisiensi perkebunan kelapa sawit. Koefisien usia petani negatif dan signifikan. Artinya semakin tua usia petani maka semakin efisien dalam perkebunan kelapa sawit. Hal ini dikarenakan petani yang lebih tua memiliki pengalaman yang lebih banyak dibandingkan dengan petani yang lebih muda.

Sistem tanam memiliki nilai negatif dan signifikan terhadap inefisiensi teknis. Artinya petani yang menggunakan sistem tunggal akan meningkatkan tingkat efisiensi teknis. Kualitas benih juga berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Artinya benih ‘bersertifikat’ dapat meningkatkan efisiensi teknis dibandingkan dengan benih ‘tidak bersertifikat’. Pemerintah Indonesia melalui program Kementerian Pertanian di Badan Litbang Perkebunan mengembangkan penelitian khususnya dalam menghasilkan benih bermutu yang tahan banting dan beradaptasi dengan iklim. Hama memiliki nilai positif dan signifikan terhadap inefisiensi teknis.

Penyuluhan berpengaruh signifikan dengan nilai negatif terhadap inefisiensi teknis. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar petani kelapa sawit mendapatkan penyuluhan dan cenderung memiliki nilai efisiensi teknis yang lebih tinggi dibandingkan dengan petani yang tidak mendapatkan penyuluhan. Koefisien petani plasma memiliki nilai negatif dan signifikan dalam inefisiensi teknis, menunjukkan bahwa petani plasma lebih efisien dibandingkan petani non-plasma. Hal ini dikarenakan petani plasma bisa mendapatkan fasilitas lebih dengan melibatkan kelompok tani plasma dan mereka bisa mendapatkan panduan penuh yang didukung oleh perusahaan kontak mereka.

Elastisitas output dari masing-masing variabel input seperti pohon, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan luas lahan. Semua elastisitas variabel input adalah positif dan inelastis. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan 1% pada setiap input akan menyebabkan peningkatan output kurang dari 1% pada fungsi produksi ini. Hal ini menunjukkan bahwa efisiensi teknis petani kecil masih perlu ditingkatkan. Dengan memperbanyak jumlah pohon, maka produksi kelapa sawit dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, pemerintah harus menciptakan peluang lahan untuk meningkatkan perkebunan kelapa sawit.

Pemerintah harus mendukung pelatihan dan memotivasi orang-orang terpelajar untuk mengikutsertakan perkebunan kelapa sawit. Untuk sistem tanam, petani harus mempraktikkan sistem pertanian tunggal untuk meningkatkan efisiensi teknis. Penggunaan benih berkualitas baik dapat meningkatkan efisiensi teknis dan pemerintah harus mendorong petani untuk menggunakan benih bersertifikat dan mencari metode baru untuk mendapatkan benih bersertifikat yang lebih berkualitas. Penyuluhan merupakan faktor yang sangat penting karena petani bisa mendapatkan metode yang sistematis untuk perkebunan mereka dari penyuluhan. Pemerintah harus menambah petugas penyuluhan untuk meningkatkan efisiensi teknis petani kecil.

Penulis: Irawati Abdul, Dyah Wulan Sari, Tri Haryanto, dan Thinzar Win

Link: https://www.nature.com/articles/s41598-022-07113-7

Leave a Comment